(gambar by pixabay.com)
GARIS BATAS
Andai di kota itu perayaan-perayaan berhenti,
Setelah pertemuan terakhir kita,
Sebagaimana abu dari sisa kayu yang terbakar
menggejala di batas akal
Biarkan aku hidupi kewaspadaan
Sebab dingin sikapmu selalu gagalkan harap
Kemungkinan kecil jadi bias
Sungguh lukaku semakin koyak
Hal apa kau analisis
Posisiku digeser, dirombak seperti susunan organisasi
Di sanalah garis batas
Jadi pembelah yang tak akan pulih
_Sukabumi, 25 Desember 2024
SEBELUM KETIADAAN
Ada namamu dalam setiap perumpamaan
Lantas gugur bersama daun yang menguning
Aku biarkan rindu itu hambar
Sendirinya rekat dan reda
Satu-satunya bagian yang kuingat
Jantung itu berdetak dan membengkak
Berharap perpisahan hanya pagar pembatas
antara mimpi dan kenyataan
Lalu kapan mata itu bicara?
Sebelum bahasa mengutarakan ketiadaan
Mencintai buatku kehilangan diri sendiri
Terlemparlah entah pada luka yang mendera
Aku masih terlanjur setia,
Pada ikrar sumpah setelah kau ucapkan kata pisah.
Sukabumi, 25 Desember 2024
KEPADA DESEMBER
Pertemuan melahirkan tulisan ini
Takdir atau kepemilikan
Pikiranku sempat tumpul
Dalam jalan-jalan kesendirian
Kepada Desember yang menjadi tambat,
Aroma basah ini kuhidu lamat-lamat
Orang bilang ini kasmaran
Tapi mungkin hanya persimpangan
Menjelang tidur, aku memintamu dengan janji
Aku tiupkan mantra-mantra pada rongga dada
yang hanya menerima bisikan,
Sebab pilihan terbagi-bagi
Dibuang sebab cemburu
atau memang bersungguh-sungguh
Desember, aku letakkan tidurku
di beranda itu,
Semuanya luruh lalu hujan turun menjemput rindu
Jiwa-jiwa kita yang terpisah akan segera bertemu.
Sukabumi, 26 Desember 2024
KIDUNG ALAM DI TANAH PARAHYANGAN
Akar-akar yang merayap di tanah Sunda
Terburai dalam pelukan purba,
Simpan sejarah di atas punggung batu
Menerbangkan doa sementara rintik hujan jatuh tanpa jeda
Aku lahir dari rengkuh sepi yang membabat tanah ini
Embun jatuh membelah langit
Apakah kau dengar itu?
Desau yang disumpahkan waktu
Tarian paku jajar lebih dari sekadar tradisi
Tapi warisan tanah keramat
Parahyangan, lelaplah dalam dekapanmu
Seluruh isyarat alam terajut abadi
Alam menjeritkan nyanyiannya
Meninggalkan nama kita
Di perut bumi yang menelan segalanya tanpa air mata.
Sukabumi, 7 Oktober 2024-31 Desember 2024
HIKAYAT LABA LABA
Rumahmu, sarang laba-laba belang
Tempat ide-ide itu bersarang
Bagaimana selamatkan dunia
Dari kisruh dan pilu
Kau tanak rancangan itu dalam prosoma
Mulanya kau tutupi gua,
Dari para durhaka hancurkan iman
Manusia tiada pernah berhenti
Sampai matahari melayang di atas kepala
Kini kau sulam benang-benang jadi jaring kuat
Tidak mudah koyak,
Tidak hilang daya juang
Sebab di dadamu telah tumbuh
Semangat menantang
Sukabumi, 6 November 2025
BIONARASI
Novita Dina seorang perempuan pecinta buku. Karyanya telah dimuat di berbagai media online. Buku kumpulan puisinya Dear Rena terbit 2021. Buku kumpulan quote terbit pada 2024. Pernah belajar di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) dan kelas SYP. Tergabung dalam komunitas COMPETER Indonesia. Merupakan Runner up dalam ajang Asqa Book Award ke-XXIV 2024. Top 10 Anugerah COMPETER Indonesia 2025.

0 Komentar